Banksy Sang Kritikus Jalanan

Maybe Banksy
halfassbackwards.com
Shop Till You Drop
(Kritikan terhadap Konsumerisme di London, Inggris)
www.streetartutopia.com/?p=5209


   Sering kali kita mendengar kritikan verbal maupun non verbal dari jiwa-jiwa kritikus yang seringkali bersangkutan tentang hal-hal yang berbau politik atau semacamnya. Atau mungkin, kritikan menggebu dari jiwa kritikus yang bersemayam dalam diri kita sendirilah yang paling sering kita dengar dan ungkapkan. Bagi seorang seniman jalanan seperti Banksy, hal tersebut juga sering dilakoninya. Ia juga sering mengungkapkan pemikiran dan pendapatnya mengenai permasalahan-permasalahan politik dan pemerintahan yang terjadi di sekitarnya. Bedanya, bagi seorang ekspresif seperti dirinya, semua ketidak puasan dan ungkapan hatinya itu ia tempelkan pada dinding-dinding jalanan melalui graffiti.

    Ups, ada yang belum tahu siapa itu Banksy?

   Banksy adalah seniman graffiti jalanan asal Inggris dengan keahlian dan keunikannya mengunakan teknik stensil. Putra dari mekanik fotokopi ini lahir dan besar di Bristol, Inggris pada tahun 1974. Awalnya ia dilatih untuk menjadi seorang tukang daging, tapi akibat ledakan aerosol yang hebat di Bristol pada akhir 1980, ia mulai terlibat dalam dunia graffiti. Sejak saat itu ia mulai mengkritik keadaan-keadaan yang terjadi disekitarnya, setelah menemukan potensinya di dunia graffiti jalanan. Ia tidak pernah menunjukkan wujudnya pada masyarakat luas, ia lebih suka di panggil Anonymous dan tidak membiarkan orang lain tahu identitasnya. Beberapa kali ada yang menyebutkan tentang sosok asli dirinya, tapi semua itu belum diakui kebenarannya. (Lihat artikel diatas)

The Child Sewing Bunting
www.highsnobiety.com
Boy Praying
www.streetartutopia.com/?tag=banksy
   Berkaitan dengan ketertarikanku terhadap 3D graffiti, boleh dibilang karya-karya Banksy juga termasuk dalam salah satu karya hidup yang terlihat nyata bagiku. Banyak dari karya-karyanya menonjolkan barang yang timbul untuk membuat kesan nyata, seperti pada gambar 'Child Sewing Bunting' diatas yang dimaksudkan untuk mengkritik pengunaan anak dibawah umur sebagai pekerja oleh toko Poundland untuk membuat produk mereka pada hari perayaan Diamond Jubilee untuk Ratu Elizabeth II.

   Tetapi, dari sekian banyak karya yang ia hasilkan, aku paling suka dengan yang satu ini, Boy Praying. Banksy menggabungkan coretan-coretan dinding berupa tulisan yang biasa terpampang dijalanan, sebagai perumpamaan dekor kaca yang biasanya terdapat didalam gereja-gereja. Pemilihan warna yang cantik, dan gambar seorang anak laki-laki yang sedang berdoa, menjadi satu rangkaian yang syahdu dan sedap dipandang mata. Terlebih lagi, hasil stensil anak laki-laki tersebut terlihat begitu nyata dan hidup terlepas dari dinding gereja. Meskipun garis hitam yang diperumpakan sebagai bingkai kaca terlalu tipis shingga masih memeperlihatkan coretan-coretan dibelakangnya, tetapi secara keseluruhan benar-benar menarik dan tak terlihat sebagai coretan tulisan belaka melainkan seperti lukisan gambar berwarna yang biasa terlihat pada hiasan kaca didinding gereja. 

   Meskipun banyak copycats terhadap karyanya, aku tetap menghargai karya Boy praying diatas terlepas dia lahir dari tangan Banksy atau bukan. Karena terkadang banyak keraguan yang tak bisa dijelaskan terhadap kepemilikan graffiti yang tersebar, dengan alasan Banksy sendiri suka menempelkan graffiti buatannya lebih dari satu tempat. Terlebih lagi, dia bukan orang yang dengan senang hati mempertontonkan dirinya untuk menunjukkan mana karyanya yang asli walaupun ia sering secara tidak langsung memperingatkan para copycats untuk berhenti membajak karyanya melalui coretannya. Jadi, walaupun banyak pro dan kontra yang terjadi, tapi Banksy tetap menjalankan aksi graffitinya sampai saat ini terhadap ketidakpuasan yang ia pendam. Lalu, bagaimana caramu untuk mengungkapkan kritik hatimu?  (^.-)

Ingin lihat hasil unkapan kritik Banksy yang lain? Monggo di klik :

Temukan dan Rasakan Sensasinya



Edgar Mueller
www.metanamorph.com




The Crevasse
http://urbanprankster.com



   Pernah dengar nama Edgar Müller?
   Ia adalah seorang seniman 3D graffiti jalanan berusia 44 tahun asal Jerman. Dilihat dari beberapa hasil graffiti ciptaan Edgar yang 'tumpah' dimana-mana, ia cenderung untuk menggambar 3D graffiti dengan menggunakan efek ketinggian atau kedalaman yang melibatkan unsur-unsur alam. Sejak 1998, pria kelahiran 10 July 1968 ini sudah dihadiahi gelar 'maestro madonnari' (master street painter), yang diberikan pada festival mural jalanan terbesar di dunia yang sebut dengan The Grazie Festival. Setelah mendedikasikan hidupnya berkeliling Eropa untuk membuat graffiti, ia kemudian mulai terinspirasi oleh 3D graffiti dan mulai mendalaminya serta menciptakan gayanya sendiri. Seperti yang dapat kita lihat dari gambar diatas, graffiti ciptaannya yang berbasis ilmu otodidak itu, bkan main-main.

   Kembali pada tanggal 21-24 Agustus 2008 yang lalu, Edgar diundang untuk mengikuti "Festival of World Culture" di Dun Laoghaire yang didukung oleh Institusi Goethe Jerman. Pada festival tersebut, ia mengubah potongan besar East Pier menjadi pemandangan jaman es yang dramatis. Karyanya itu diberi nama The Crevasse, yang dalam bahasa Indonesia berarti ceruk-es. Pembuatan The Crevasse ini menurutku tidak mudah, terutama menciptakan efek es yang mengkilap dan licin yang tidak mudah didapatkan jika melihat material paving yang digunakan. Mau tau rahasianya? PLASTIK. Edgar menggunakan plastik transparan yang cukup kuat untuk ditimpa ulang dengan cat. Mungkin bagi sebagian orang trik seperti itu terlihat sepele, tapi bagiku untuk menciptakan kreatifitas seperti itu untuk pertama kali bukanlah hal mudah.

   Hal yang paling aku suka dari karya Edgar adalah, ketika ia berhasil menarik para audience untuk mencoba seberapa nyata kah karya yang ia ciptakan untuk mendapatkan sensasi yang dapat memacu adrenalin sesaat. Pernah bermimpi jatuh dari gedung pencakar langit hanya dengan satu langkah kaki dan kita terbangun dengan adrenalin yang terpacu sesaat? Mungkin kalau digambarkan dengan perumpamaan, seperti itulah hal yang kurasakan saat aku melihat karya Edgar dan mencoba membayangkan untuk berdiri ditepi The Crevasse. Memang efek foto sedikit berbeda dengan tampilan graffiti langsung, tapi jika kalian menemukan posisi yang tepat, kalian akan bisa merasakan seberapa nyatanya imaginasi yang kita bayangkan untuk mendapatkan sensasi itu. -.^

Ingin saksikan langsung prosesnya? Monggo diklik :

I.N.T.R.O

Impressive anamorphic graffiti by TSF Crew.
http://www.123inspiration.com/anamorphic-graffiti-by-tsf-crew/


YOSSHHH!!
Salam kenal semua,,mulai hari ini mohon kerjasamanya.. ^^

Sekaligus sebagai perkenalan awal, saya akan menjelaskan sedikit tentang blog yang baru berusia muda ini. 'Hot Mess' adalah blog yang mengulas informasi seputar graffiti, dengan pemikiran yang luar biasa menarik dan mengagumkan di berbagai negara. Lebih spesifiknya saya akan mengulas mengenai 3D graffiti.

Bagi yang belum tahu apa itu graffiti, akan saya jelaskan sedikit disini. Graffiti adalah coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat tertentu. Alat yang digunakan pada masa kini biasanya cat semprot kaleng. Sebelum cat semprot tersedia, grafiti umumnya dibuat dengan sapuan cat menggunakan kuas atau kapur.

Nah, dengan semakin berkembangnya dunia di segala bidang, maka pemikiran dan cara pengaplikasian  graffiti semakin beragam. yang paling menarik minat saya saat ini adalah graffiti yang dapat menimbulkan kesan nyata yang sekarang banyak beredar dijalanan di berbagai negeri, atau yang biasa saya singkat menjadi 3D graffiti.

Meskipun mengundang banyak opini danbanyak orang menganggap coretan-coretan graffiti sebagai hal yang negatif, tetapi banyak juga yang memberikan apresiasi positif bagi karya expresif 3D graffiti ini. Jadi, ditunggu reaksi ya. -.^


Powered by Blogger.